Alat peraga kampanye hanyalah alat peraga
Baru saja kota di tempat saya tinggal melaksanakan Pilwakot (Pemilihan Walikota dan wakilnya). Kandidatnya 3 pasangan calon walikota dan wakil walikota. Pasangan no.1 Incumbent (yang berharap terpilih kembali/calon yang ditantang) melakukan kampanye mengandalkan 2 mesin partai utama (karena masing-masing kadernya ada di pasangan itu) didukung beberapa partai lainnya. Pasangan no.2 berjuang sendiri alias dari satu partai saja. Pasangan no.3 calon independent. Pasangan no.1 berharap pada sudah terkenalnya calon walikota karena pernah menjabat walikota sehingga alat peraga berupa baligo, spanduk, poster, dll. tidak terlalu mendominasi. Pasangan no.2 berusaha sangat keras sampai-sampai baligo dan spanduk hampir ada di setiap sudut jalan dan posternya bertebaran dimana-mana dengan variasi bermacam-macam yang mereka artikan sebagai kreativitas. Yang No.3 kalau boleh saya nilai hanya mengandalkan ke-independen-an-nya. Hasilnya adalah (versi quick count/hitung cepat) no.1 Menang cukup telak 60 persen lebih, no.2 26 persen lebih, dan no.2 sisanya. Ternyata walaupun alat peraganya bertaburan dimana-mana tidak menjamin peluang terpilih menjadi lebih besar.
Sesuatu hal:
-Mungkin karena saking banyaknya alat peraga tersebut sehingga pemilih pun menjadi tidak simpatik. Bayangkan anda berjalan sedikit saja anda akan menemukan mukanya terpampang, dari segi rasa (ilfil kali ye…) dan estetika lingkungan tentu saja merusak.
Catatan: ini hanya menilai dari segi alat peraga, tidak menilai dari keseluruhan kampanye dan segala hal teknis dibelakang persiapan kampanye semua pasangan calon.